Dirkeu PT Semen Padang Ungkap Fakta Ilmiah Konstruksi Jam Gadang, Bantah Mitos Putih Telur

Direktur Keuangan PT Semen Padang Iskandar Z. Lubis mengungkap sejumlah fakta ilmiah terkait konstruksi Jam Gadang dalam Seminar Internasional “Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-Belanda melalui Jembatan Persahabatan Bukittinggi-Amsterdam” yang digelar di Bung Hatta Convention Hall, Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026). (Foto: Semen Padang/SumbarFokus.com)

Dia menjelaskan hasil pengujian menunjukkan kuat tekan beton Jam Gadang mencapai sedikitnya 25 MPa, yang masih memenuhi standar bangunan struktural modern saat ini.

“Kalau dikonversikan, kekuatan 25 MPa itu luar biasa untuk ukuran tahun 1926. Artinya, teknologi konstruksi yang digunakan saat itu sudah sangat maju,” katanya.

Menurut dia, fakta tersebut membantah anggapan bahwa konstruksi Jam Gadang hanya mengandalkan bahan tradisional seperti putih telur.

Selain itu, Iskandar juga meluruskan narasi yang menyebut Jam Gadang sebagai kembaran Big Ben. Menurut berbagai referensi sejarah, mesin Jam Gadang diproduksi Benhard Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mekanisme yang dibuat Dent & Co. di Inggris.

Bacaan Lainnya

“Jadi, sebenarnya kedua jam tersebut dibuat oleh perusahaan yang berbeda. Karena itu, penting bagi kita untuk menyampaikan sejarah berdasarkan fakta agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ujarnya.

Dia menambahkan, cerita penggunaan putih telur lebih tepat dipahami sebagai folklor yang berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat.

Memasuki usia satu abad pada 2026, Jam Gadang tetap berdiri kokoh sebagai ikon Kota Bukittinggi sekaligus saksi perkembangan teknologi konstruksi di Indonesia. (000/sp)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait