Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 0,94 persen dengan andil 0,05 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki juga mencatat inflasi 0,67 persen dengan andil 0,04 persen.
Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami deflasi 0,59 persen dengan andil minus 0,06 persen sehingga menahan inflasi agar tidak lebih tinggi.
Daging Ayam Paling Menekan Inflasi
Daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar pada Agustus, yakni 0,23 persen. Kenaikan harga terutama terjadi di Kabupaten Dharmasraya.
“Daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,23 persen karena tingginya harga di Dharmasraya yang didorong meningkatnya permintaan pada momentum Maulid Nabi dan rangkaian peringatan HUT RI, di tengah kenaikan harga pakan ternak,” jelasnya.
Tekanan berikutnya berasal dari cabai rawit dan emas perhiasan yang masing-masing memberikan andil 0,05 persen. Ikan tongkol memberikan andil 0,03 persen, sedangkan beras 0,02 persen.
Kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan penguatan harga emas global. Sementara harga cabai rawit di Kabupaten Dharmasraya dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah pemasok akibat kegagalan panen.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga. Cabai merah, jengkol, angkutan udara, tomat, dan bawang merah menjadi komoditas yang menahan inflasi lebih tinggi.
“Deflasi komoditas hortikultura cabai merah dan bawang merah ditopang meningkatnya produksi seiring berlangsungnya musim panen di sentra produksi Sumatera Barat, khususnya Solok,” katanya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





