Inflasi Sumbar Melandai ke 4,12 Persen, BI: Tekanan Pangan Mulai Mereda

Ilustrasi. (Foto: TIM/SumbarFokus.com)

Namun, penurunan inflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas.

Daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,09 persen, diikuti bensin 0,06 persen, jengkol 0,05 persen, cabai rawit 0,04 persen dan jasa servis kendaraan 0,04 persen.

Majid menjelaskan, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi upaya penyesuaian harga di tingkat peternak setelah periode harga rendah sebelumnya. Sementara inflasi bensin dipicu penyesuaian harga Pertamax yang berlaku sejak Juni 2026.

Secara tahunan, penurunan inflasi Sumatera Barat menjadi 4,12 persen antara lain didorong deflasi bawang merah yang mencapai 21,54 persen serta masih rendahnya harga telur ayam ras.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, Majid mengatakan, tekanan inflasi masih bersumber dari cabai merah, beras, bensin, emas perhiasan dan angkutan udara.

Realisasi inflasi tahunan Sumatera Barat sebesar 4,12 persen masih berada di atas rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.

Bukittinggi Catat Inflasi Bulanan Tertinggi

Secara spasial, Bukittinggi mencatat inflasi bulanan tertinggi di Sumatera Barat pada Juli 2026 sebesar 0,28 persen.

Padang mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dan Dharmasraya 0,02 persen. Sementara Pasaman Barat mengalami deflasi sebesar 0,04 persen.

Secara tahunan, inflasi tertinggi tercatat di Dharmasraya sebesar 4,98 persen, diikuti Pasaman Barat 4,68 persen, Bukittinggi 4,15 persen dan Padang 3,82 persen.

Majid mengatakan, rendahnya inflasi kumulatif Sumatera Barat hingga Juli terutama ditopang kelompok bahan pangan bergejolak yang masih mencatat deflasi sebesar 3,84 persen sejak awal tahun.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait