“Capaian ini menunjukkan efektivitas berbagai program pengendalian inflasi yang dilakukan Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah, khususnya melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera, penguatan pasokan komoditas pangan strategis, pelaksanaan operasi pasar dan penguatan Kerja Sama Antar Daerah,” katanya.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui penguatan pasokan pangan, kelancaran distribusi dan pengelolaan ekspektasi masyarakat.
Upaya itu dilakukan melalui percepatan pemulihan sarana dan prasarana pendukung distribusi pascabencana serta intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga keterjangkauan harga pangan.
Selain itu, Kerja Sama Antar Daerah (KAD) berbasis neraca pangan akan dioptimalkan untuk menjaga kecukupan pasokan dan stabilitas harga. Ketahanan pasokan hortikultura juga diperkuat melalui pengembangan urban farming dan pemberdayaan kelompok tani champion cabai dan bawang.
BI Waspadai Pangan, Energi dan Rupiah
Majid memperkirakan, inflasi Sumatera Barat ke depan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Meski demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai, terutama kenaikan harga pangan dan energi global, gangguan produksi akibat faktor cuaca serta disrupsi distribusi.
“Risiko lainnya adalah disparitas harga antarwilayah serta tekanan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan ekspektasi inflasi,” kata Majid. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





