PADANG (SumbarFokus)
Laju inflasi Sumatera Barat melandai pada Juli 2026 seiring meredanya tekanan harga pangan. Peningkatan produksi bawang merah dan cabai merah di sejumlah sentra ikut menahan kenaikan harga setelah inflasi bulanan sempat mencapai 0,50 persen pada Juni.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Sumatera Barat pada Juli 2026 tercatat sebesar 0,07 persen secara bulanan atau month to month (mtm), lebih rendah dibandingkan Juni yang mencapai 0,50 persen.
Secara tahunan, inflasi Sumatera Barat turun dari 4,70 persen pada Juni menjadi 4,12 persen year on year (yoy) pada Juli. Sementara itu, inflasi kumulatif sejak awal tahun tercatat 1,05 persen year to date (ytd).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, perlambatan inflasi pada Juli terutama didorong kelompok bahan pangan.
“Perlambatan inflasi bulanan pada Juli 2026 terutama didorong oleh kelompok bahan pangan, terutama akibat turunnya harga bawang merah dan cabai merah seiring meningkatnya produksi di sentra utama Sumatera Barat seperti Kabupaten Solok dan Tanah Datar, serta daerah pemasok lainnya seperti Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Simalungun,” kata Majid, Kamis (6/8/2026).
Dia mengatakan, tekanan inflasi dari emas perhiasan juga melandai seiring penurunan harga emas global.
Pada kelompok barang yang harganya diatur pemerintah, inflasi turun menjadi 0,36 persen pada Juli dari 1,29 persen pada Juni. Penurunan didorong normalisasi tarif angkutan udara setelah berakhirnya periode libur sekolah serta penurunan tarif transportasi daring sejalan dengan penyesuaian kebijakan potongan komisi aplikator.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





