Menurut dia, konsep “Surf & Soul” lahir dari pendekatan The Progression of Economic Value, yakni transformasi ekonomi dari komoditas, jasa, pengalaman, hingga penguatan identitas budaya.
Pada tahap pengalaman, Mentawai menghadirkan kekuatan “Surf” melalui ombak kelas dunia yang dikenal sebagai salah satu destinasi terbaik peselancar dunia.
Sementara unsur “Soul” diwujudkan melalui kekayaan budaya masyarakat adat Mentawai, termasuk filosofi Sikerei yang mencerminkan harmoni antara manusia dan alam.
“Sikerei itu soul-nya Mentawai,” ujar Hermawan.
Selain itu, city branding tersebut juga mengangkat elemen budaya lain seperti motif tato “Titi Takep” Sikerei, simbol “Jaraik”, dan “Silogui” yang merepresentasikan hubungan manusia dengan alam dan arah kehidupan.
Menurut Hermawan, wisatawan yang datang ke Mentawai tidak hanya mencari ombak, tetapi juga pengalaman budaya dan kehidupan masyarakat adat yang masih terjaga.
“Mentawai adalah the epicenter of tourism in western Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana menyatakan pemerintah daerah berkomitmen menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya agar keaslian Mentawai tetap terjaga di tengah meningkatnya perhatian dunia.
Melalui city branding “Surf & Soul”, Mentawai diharapkan mampu menjadi ikon pariwisata dunia yang memadukan keunggulan alam dan kekayaan budaya lokal. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






