PESISIR SELATAN (SumbarFokus)
Pengelolaan zakat di Sumatera Barat didorong tidak berhenti pada pemberian bantuan konsumtif, tetapi diarahkan menjadi program pemberdayaan yang membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.
Dorongan itu disampaikan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat Bachtiar dalam Milad ke-16 LAZISMU Sumbar di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat, Kamis (20/8/2026).
Bachtiar mengatakan, potensi zakat, infak dan sedekah (ZIS) cukup besar untuk membantu mengatasi persoalan sosial. Karena itu, penerima manfaat perlu dipetakan dan didampingi agar dana umat dapat memberikan dampak yang lebih panjang.
“Selama ini pendistribusian lebih kepada hal-hal bersifat konsumtif, tidak produktif. Pendampingan pun belum maksimal sehingga begitu banyak kelompok miskin yang belum terentaskan,” kata Bachtiar.
Dia berharap ada perubahan pendekatan dalam pengelolaan ZIS, dengan menempatkan mustahik sebagai kelompok yang perlu diberdayakan hingga mampu meningkatkan kesejahteraannya.
“Semoga ada pergeseran di Muhammadiyah, bagaimana ada pemetaan masyarakat penerima dari kondisi miskin ke sejahtera. Ini akan jadi bagian dari kerja-kerja kita ke depannya,” ujarnya.
Selain pemberdayaan, Bachtiar menilai kepercayaan publik menjadi kunci dalam memperkuat gerakan filantropi. Pengelolaan dana umat harus dilakukan secara amanah dan transparan agar kepercayaan muzaki tetap terjaga.
Sekretaris Badan Pengurus LAZISMU Pusat Gunawan Hidayat mengatakan, akuntabilitas menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Dia menyebut LAZISMU telah tujuh kali menjalani audit dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





