“Ketika warisan penting ini pulang, tugas museum adalah menghidupkan kembali maknanya dan mengembalikan ke akar budayanya melalui riset, konservasi, dan interpretasi publik,” jelasnya.
Fadli juga menekankan pentingnya museum menjadi bagian dari pengembangan ekonomi budaya nasional.
Dia mengatakan museum menyimpan modal kultural berupa pengetahuan, nilai, dan narasi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi melalui sektor film, animasi, gim, wastra, kuliner, hingga konten digital.
“Museum harus menjadi tempat di mana cultural capital dikembangkan menjadi public value dan economic value secara berkelanjutan,” katanya.
Menurut dia, ekonomi budaya yang sehat harus mampu mengembalikan nilai kepada masyarakat, pelaku budaya, dan keberlanjutan warisan budaya itu sendiri.
Kementerian Kebudayaan mencatat hingga April 2026 terdapat 516 museum di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 373 museum telah teregistrasi dan 234 museum telah terstandarisasi.
Fadli menilai angka tersebut menjadi dasar penting dalam penguatan ekosistem permuseuman nasional, mulai dari tata kelola koleksi, digitalisasi, riset, hingga peningkatan akses publik.
Dia juga menyoroti tingginya minat generasi muda terhadap museum. Berdasarkan survei Museum dan Cagar Budaya tahun 2025, lebih dari 70 persen pengunjung museum berusia di bawah 35 tahun.
“Tugas kita selanjutnya adalah memastikan generasi muda tidak berhenti sebagai pengunjung, melainkan tumbuh sebagai peserta aktif,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Fadli turut mengapresiasi peluncuran Museum Passport oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya bersama sejumlah mitra.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






