Dia menjelaskan, terdapat 11 indikator kinerja utama yang menjadi tolok ukur perguruan tinggi, di antaranya persentase lulusan yang bekerja atau melanjutkan studi dalam satu tahun setelah kelulusan, jumlah dosen dengan rekognisi internasional, hingga publikasi bereputasi internasional di Scopus dan Web of Science.
Selain itu, Setiawan juga menyoroti sejumlah tantangan pendidikan tinggi nasional, seperti otonomi perguruan tinggi yang belum optimal, riset yang belum berdampak luas, integrasi kampus dan industri yang masih terbatas, hingga kesenjangan mutu antarwilayah.
Dia juga menyinggung rendahnya posisi Indonesia dalam indeks Tertiary Inbound Mobility UNESCO 2023 yang mengukur daya tarik perguruan tinggi terhadap mahasiswa asing.
Menurut dia, kementerian tengah menyiapkan berbagai langkah strategis, termasuk pembentukan pusat pengelolaan mahasiswa asing dan penguatan kerja sama internasional.
Dalam kesempatan itu, Setiawan turut memaparkan program prioritas hilirisasi riset Technopreneurs yang ditargetkan berjalan hingga 2029 dengan sasaran menciptakan 4.512 perusahaan rintisan dan menyerap sekitar 1,75 juta tenaga kerja. (000/unp)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






