Perwakilan Dinas Pariwisata serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan turut hadir dalam kegiatan. Kedua instansi mengapresiasi pendampingan UNP dan berharap kolaborasi tersebut memperkuat pelestarian MV Boelongan sekaligus mendorong wisata bawah laut yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Yusfa Hendra Bahar dalam pemaparannya menjelaskan potensi cagar budaya di Pesisir Selatan, mulai dari Benteng Pulau Cingkuak, Pelabuhan Muaro Sakai, Pelabuhan Salido, hingga situs bawah laut MV Boelongan.
Menurutnya, pelestarian cagar budaya tidak hanya menyangkut perlindungan, tetapi juga pengembangan dan pemanfaatan sesuai amanat Undang-Undang Cagar Budaya. MV Boelongan memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan Perang Dunia II dan berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah bawah laut di Indonesia bagian barat.
Dia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat untuk menjaga situs tersebut dari berbagai ancaman, termasuk sedimentasi dan aktivitas yang dapat merusak bangkai kapal.
Sementara itu, Prof. Siti Fatimah menekankan pentingnya capacity building bagi kelompok diving Mandeh, termasuk melalui pembentukan komunitas yang memiliki legalitas. Organisasi yang kuat dinilai dapat membuka peluang kerja sama, pelatihan, sertifikasi penyelam, serta akses terhadap berbagai program pemberdayaan.
Menurutnya, pengembangan MV Boelongan sebagai destinasi wisata minat khusus harus tetap mengedepankan prinsip konservasi agar warisan budaya bawah air tersebut tetap terjaga.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





