Ketua Tim Pengabdian Prof. Rahadian Zainul menjelaskan, pengolahan dapat membuat jagung lebih menarik dikonsumsi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas.
“Kuncinya adalah inovasi. Jagung dapat diolah menjadi berbagai produk yang lebih menarik, seperti susu jagung, nugget jagung, puding, maupun makanan ringan bergizi. Dengan pengolahan yang tepat, nilai gizinya tetap terjaga dan anak-anak akan lebih menyukainya,” jelasnya.
Persoalan lain yang dibahas adalah melimpahnya produksi jagung saat musim panen yang dapat menyebabkan harga jual menurun. Prof. Elida menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan keterampilan pascapanen.
“Inilah pentingnya meningkatkan keterampilan masyarakat. Ketika hasil panen diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah, harga jualnya akan meningkat dan masa simpannya juga lebih panjang. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga menjual produk yang lebih bernilai,” katanya.
Selain jagung, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai pemanfaatan kelapa. Tim pengabdian memperkenalkan pengolahan yang sederhana dan higienis dengan peralatan rumah tangga agar dapat diterapkan secara mandiri. Pengembangan kelapa diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatannya sebagai bahan pangan bernilai tambah.
Aspek gizi keluarga juga menjadi bagian dari kegiatan. Peserta memperoleh materi mengenai gizi seimbang, pemanfaatan jagung dan kelapa sebagai pangan bergizi, serta pencegahan stunting.
“Kami tidak datang hanya untuk memberikan materi, tetapi ingin bersama-sama membangun kemampuan masyarakat agar potensi jagung dan kelapa yang melimpah di Nagari Sikabu dapat diolah menjadi produk bergizi, bernilai tambah, dan berpeluang menjadi sumber pendapatan keluarga,” jelas Prof. Rahadian.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





