Selain itu, menurut dia, pemerintah daerah juga masih menghadapi kendala berupa belum tersedianya data yang akurat mengenai jumlah penyandang Cerebral Palsy di Sumatera Barat.
Dia menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan Yayasan Rumah Gadang Cerebral Palsy untuk mendata sekaligus menghimpun para orang tua pendamping agar dapat mengikuti berbagai program pembinaan, termasuk pelatihan terapi mandiri.
“Dengan pelatihan ini, kami berharap orang tua tidak hanya bergantung pada layanan fisioterapi di fasilitas kesehatan, tetapi juga mampu memberikan terapi dasar secara mandiri di rumah untuk mendukung tumbuh kembang anak penyandang Cerebral Palsy,” ujarnya.
Pembukaan pelatihan turut dihadiri Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis. Dia mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai membantu meningkatkan kemampuan orang tua dalam mendampingi anak penyandang Cerebral Palsy di tengah keterbatasan tenaga fisioterapis.
Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Sumbar Desra Elena mengatakan, peserta bimbingan teknis berasal dari Kota Bukittinggi, Padang, Payakumbuh, Sawahlunto, serta sejumlah daerah lainnya di Sumatera Barat.
“Melalui bimbingan teknis ini, kami mengajarkan orang tua agar mampu melakukan terapi secara mandiri di rumah. Ini sangat penting karena keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dia menambahkan, kemampuan orang tua melakukan terapi secara mandiri akan membantu anak penyandang Cerebral Palsy ketika tidak dapat menjalani terapi rutin di fasilitas kesehatan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





