Ia berharap kolaborasi tersebut terus dirawat agar manfaat pompanisasi dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami berharap air yang mulai mengalir ke lahan pertanian Tanjung Barulak juga menjadi awal mengalirnya produktivitas, kesejahteraan, dan harapan baru bagi masyarakat,” lanjutnya.
Kolaborasi menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan program tersebut. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, pemerintah nagari, Universitas Andalas, Kelompok Tani Saiyo, dunia usaha, serta berbagai unsur lainnya mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing untuk menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Sinergi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan energi bersih dapat diperluas untuk mendukung sektor produktif. Energi surya tidak berhenti sebagai sumber listrik, tetapi dimanfaatkan untuk menggerakkan aktivitas pertanian dan membantu masyarakat memperoleh akses terhadap sumber daya yang penting bagi keberlangsungan produksi pangan.
Dampak yang diharapkan dari program ini juga sejalan dengan upaya mendukung swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Dari sebuah sistem pompa yang mengalirkan air, terbuka peluang untuk menghadirkan lebih banyak masa tanam, meningkatkan produksi, dan memperkuat ketahanan pangan mulai dari tingkat nagari.
Kini, Batang Manganan bukan lagi sekadar sumber air bagi masyarakat Tanjung Barulak. Ia menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif dan petani memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





