Selain banjir, persoalan air bersih turut menjadi keluhan. Pihak sekolah telah berupaya memenuhi kebutuhan air dengan membuat sejumlah sumur bor, namun air yang dihasilkan masih keruh dan berbau besi.
“Kalau menggunakan layanan PDAM airnya jernih, tetapi alirannya sering mati sehingga belum cukup memenuhi kebutuhan sekolah,” kata seorang guru.
Keterbatasan fasilitas olahraga juga menjadi perhatian. Lahan yang sebelumnya digunakan sebagai lapangan sebagian telah dimanfaatkan untuk pembangunan gedung sekolah. Akibatnya, siswa terkadang harus mengikuti pembelajaran olahraga di ruang kelas atau menyewa lapangan di luar sekolah.
Guru olahraga menyebut kondisi tersebut perlu segera dicarikan solusi, terutama karena SMAN 12 Padang akan menghadapi penilaian akreditasi pada 2027.
“Tanpa lapangan olahraga yang layak, tentu menjadi salah satu persoalan dalam pemenuhan fasilitas sekolah,” ujarnya.
Evi Yandri Dorong Perencanaan Terpadu
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Evi Yandri meminta pihak sekolah menyusun perencanaan pembangunan secara terpadu sehingga kebutuhan sekolah dapat dipetakan berdasarkan skala prioritas.
Menurutnya, pembangunan fasilitas pendidikan membutuhkan perencanaan jangka panjang agar program yang telah disusun dapat terus dilanjutkan meskipun terjadi pergantian kepala sekolah.
“Harus ada master plan yang jelas. Jangan sampai ketika kepala sekolah berganti, perencanaan pembangunan ikut berubah. Ini akan menyulitkan pembangunan sekolah,” tegas Evi Yandri.
Ia menyampaikan, berbagai aspirasi yang disampaikan pihak sekolah akan menjadi bahan pembahasan bersama pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Sumatera Barat.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





