Pendampingan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan pembuatan produk. Peserta mendapatkan pelatihan desain busana, teknik pengambilan ukuran, pembuatan pola, teknik menjahit baju kurung basiba dan busana muslimah, hingga pengelolaan usaha.
Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Kemampuan tersebut kemudian menjadi modal bagi pelaku UMKM untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Pengabdian ini sudah kami laksanakan di Kecamatan Harau. Melalui kegiatan diseminasi ini kami ingin mendorong agar hasilnya dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah, sehingga penggunaan baju kurung basiba tidak hanya berkembang di masyarakat, tetapi juga semakin diimplementasikan di lingkungan pemerintahan sebagai bagian dari pelestarian budaya Minangkabau,” ujar Ernawati.
Program tersebut juga memperkuat hubungan antara UNP, pemerintah nagari, dan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif yang bertumpu pada kearifan lokal.
Agar hasilnya tidak berhenti pada kegiatan pendampingan, UNP kemudian menghadirkan berbagai unsur terkait dalam forum diseminasi. Hasil pengabdian dibahas untuk mendapatkan masukan sekaligus merumuskan rekomendasi yang dapat mendukung pelestarian baju kurung basiba.
Direktur Kerja Sama, Reputasi, dan Internasional UNP yang diwakili Kasubdit Layanan Internasional Desvalini Anwar, M.Hum., Ph.D. saat membuka kegiatan berharap hasil pengabdian tersebut dapat menjadi bahan masukan dalam penyusunan kebijakan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





