Secara bulanan, peningkatan inflasi September terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Cabai merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,47 persen.
Kenaikan harga cabai merah berkaitan dengan meningkatnya pengiriman ke luar Sumbar di tengah penurunan produksi nasional, berkurangnya pasokan dari wilayah yang terdampak erupsi dan kebakaran hutan, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di sejumlah sentra produksi.
āPenurunan harga cabai rawit terjadi sejalan dengan peningkatan area budidaya cabai rawit di sejumlah sentra. Sementara tarif angkutan udara menurun sejalan dengan normalisasi permintaan dan penyesuaian tarif pascaperiode liburan,ā sebut Majid.
Tekanan inflasi bulanan juga tertahan oleh penurunan harga emas perhiasan, cabai rawit, angkutan udara, jengkol, dan kentang.
Pasokan Cabai Lokal dan Luar Daerah Dijaga
Menghadapi kenaikan harga cabai merah, TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota bersama Bank Indonesia dan BULOG memperkuat stabilisasi melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
TPID, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, di seluruh Sumatera Barat bersama Bank Indonesia dan BULOG telah melakukan penguatan stabilisasi harga melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) berprinsip 5 Tepat (waktu, lokasi, komoditas, jumlah, dan sasaran) guna menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan.
Selain itu, Kerja Sama Antar Daerah (KAD) berbasis neraca pangan terus dioptimalkan, termasuk melalui business matching antara petani, off-taker, dan mitra logistik untuk menjaga kecukupan pasokan dan stabilitas harga.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





