Sumbar memiliki beragam kekuatan produk, mulai dari tenun, songket, sulaman, kriya, kuliner, kopi hingga teh. Tantangannya, kata Aida, adalah bagaimana kekuatan tersebut dapat ditransformasikan menjadi nilai tambah ekonomi, membuka pasar lebih luas dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
âSumatera Barat punya modal yang sangat kuat. Produk tenun, songket, sulaman, kuliner dan lainnya merupakan kekuatan yang perlu terus dikembangkan menjadi nilai tambah ekonomi,â katanya.
Aida juga menyoroti inflasi yang masih menjadi tantangan. Karena itu, penguatan UMKM perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga produktivitas dan kemampuan memperluas pasar.
BI, lanjut Aida, terus mendorong UMKM melalui pengembangan model bisnis, penguatan sistem pembayaran serta berbagai fasilitasi yang mendukung pengembangan usaha.
Digitalisasi menjadi salah satu instrumen penting dalam proses tersebut. Hingga triwulan II 2026, pengguna QRIS di Sumatera Barat mencapai 1,08 juta dengan sekitar 754 ribu merchant. Volume transaksi QRIS tumbuh 158 persen secara tahunan.
âDigitalisasi tidak hanya untuk mempermudah pembayaran, tetapi juga dapat memperkuat pemasaran, pencatatan transaksi, efisiensi usaha serta akses UMKM terhadap pembiayaan dan pasar,â ujar Aida.
SCF 2026 mengusung tema âCreative Culture for Digital and Sustainable Future: Mendorong Daya Saing Ekonomi Kreatif Sumatera Barat Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digitalâ.
Festival tersebut menghadirkan lebih dari 60 UMKM dengan berbagai produk unggulan Sumatera Barat. Produk yang ditampilkan antara lain wastra, fesyen, kriya dan kerajinan, makanan dan minuman olahan, kopi, teh hingga produk berbasis keberlanjutan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





