Saat ini, terdapat empat kali penerbangan Kuala Lumpur–Bandara Internasional Minangkabau dalam sepekan, serta tiga kali penerbangan Singapura–Bandara Internasional Minangkabau setiap pekan.
Menurut Mahyeldi, kondisi tersebut menjadi peluang bagi produk UMKM Sumbar untuk masuk ke pasar wisatawan mancanegara. Karena itu, inovasi dan peningkatan kualitas produksi menjadi penting untuk meningkatkan daya saing.
“Digitalisasi tidak kalah penting. Penguatan branding dan fasilitasi penguatan produk perlu dilakukan agar UMKM Sumbar bisa naik kelas,” ujarnya.
Dia juga mengapresiasi berbagai program pemerintah kabupaten dan kota dalam mendorong UMKM naik kelas. Menurut Mahyeldi, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, BI, perbankan, dunia usaha dan masyarakat.
“Kuncinya kolaborasi,” tegasnya.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, SCF 2026 dirancang bukan sekadar sebagai ruang promosi produk, tetapi sebagai ekosistem yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai peluang pengembangan.
“Pengembangan ekonomi kreatif perlu berjalan bersama dengan digitalisasi. Karena itu, kami ingin kegiatan seperti ini juga memberikan pengalaman dan manfaat bagi masyarakat dalam menggunakan transaksi digital,” ujar Majid.
Melalui SCF 2026, BI Sumbar bersama pemerintah daerah mendorong produk kreatif Sumatera Barat bergerak lebih jauh, dari kekuatan produk lokal menjadi bisnis yang memiliki nilai tambah, dari pasar lokal menuju pasar yang lebih luas, hingga membuka peluang ekspor.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





