Dia menambahkan, permainan tersebut juga memiliki nilai historis. Pada masa penjajahan Belanda, Sipak Rago dimanfaatkan para pemuda Minangkabau sebagai sarana melatih ketangkasan fisik dan bela diri secara terselubung.
“Dulu Belanda melarang orang Minang latihan bela diri. Melalui permainan ini mereka terkecoh, dikira kita sekadar bermain bola, padahal sekaligus berlatih bela diri (silat),” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat yang diwakili Kepala Museum Adityawarman Tuti Alawiyah menilai, Sipak Rago bukan sekadar permainan tradisional, tetapi juga mengandung nilai sejarah, sportivitas, dan kedisiplinan yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.
“Penyelenggaraan festival ini sangat penting agar permainan tradisional tetap dikenal dan diminati generasi muda,” tuturnya.
Dia juga mengapresiasi dukungan DPRD Sumbar melalui alokasi dana pokok pikiran untuk mendukung pelestarian kebudayaan daerah.
Apresiasi serupa disampaikan Camat Kuranji Rozaldi Rosman. Menurut dia, festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mengenal dan melestarikan nilai-nilai budaya Minangkabau di tengah perkembangan zaman.
Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat tahun ini memperebutkan total hadiah Rp29,5 juta. Pembukaan kegiatan ditandai dengan tendangan bola pertama oleh Evi Yandri Rajo Budiman bersama unsur Forkopimda, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Babinsa, dan para tamu undangan. (003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





