“Sejarah ini tidak semestinya berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi harus menjadi sumber pembelajaran dan pedoman dalam menentukan arah pembangunan ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Bunda Literasi Kota Padang Panjang Maria Feronika Hendri, menegaskan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menumbuhkan empati, serta mengenali jati diri.
Dia menilai keluarga memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi sejak dini melalui kebiasaan membaca bersama, berdialog, dan mendampingi anak belajar.
Menurutnya, penguatan literasi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat luas.
“Budaya membaca tidak akan tumbuh hanya melalui program sesaat, tetapi perlu dibangun secara konsisten melalui keteladanan dan lingkungan yang mendukung,” ucapnya.
Adapun Gerakan Padang Panjang Membaca 1-1-1 mengusung konsep satu pelajar, satu buku, satu bulan. Program ini diharapkan mampu membangun kebiasaan membaca secara teratur di lingkungan pendidikan.
Sedangkan Pamenan diarahkan pada pelestarian budaya lokal melalui permainan tradisional. Inovasi ini diharapkan dapat mengenalkan kembali permainan warisan daerah kepada generasi muda sekaligus menjadikannya sebagai sarana edukasi.
Pemerintah Kota Padang Panjang berharap kedua inovasi tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk memperluas wawasan pelajar, menumbuhkan kecintaan terhadap buku, dan memperkuat kepedulian terhadap budaya lokal.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





