“Saat kampanye janjinya begitu indah. Setelah terpilih, jangan sampai masyarakat merasakan seolah-olah pemerintah mengalami amnesia terhadap janji-janji yang pernah disampaikan,” ujarnya.
Rafik menegaskan kritik tersebut merupakan bentuk kontrol sosial agar pemerintah tetap konsisten menjalankan komitmen politiknya.
“Warga Minang di Jakarta ikut berkontribusi bagi kemajuan ibu kota. Karena itu, kami berharap pemerintah tidak melupakan aspirasi kami. Jangan hanya datang saat membutuhkan dukungan politik, lalu menghilang setelah memperoleh kekuasaan,” katanya.
Forum Perantau Minang untuk Pram–Doel juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka ruang dialog dengan tokoh-tokoh masyarakat Minang serta mulai merealisasikan program-program yang pernah dijanjikan kepada masyarakat.
“Kami bersuara karena peduli. Kami tidak sedang mencari konflik, tetapi menagih janji. Janji adalah utang moral yang harus dipenuhi,” tutup Rafik. (000)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





