Nobar “Satu Hari dengan Ibu”, Ummi Harnelli Sulit Hentikan Cucuran Air Mata

Ummi Harnelli dan tim produksi serta pemain "Satu Hari dengan Ibu", diwawancara awak media udah kegiatan nonton bareng film yang menginspirasi tersebut, Minggu (24/8/2024) malam. (Foto: YEYEN/SumbarFokus.com)

PADANG (SumbarFokus)

Apa yang akan anda lakukan jika anda diberi satu hari saja kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ibu anda yang sudah tiada? Mampukan anda menjawabnya? Cukupkah hanya satu hari? Ingin bercerita, bermanja, peluk ibu, mendengarkan semua nasihatnya, makan bersama, minta dibelai kepala, dan masih banyak hal lainnya bisa jadi yang ingin anda perbuat untuk bisa tetap melihat pandangan mata sang ibu yang selalu penuh kasih sayang menatap anda. Bisa jadi anda bahkan ingin ibu anda tetap hidup selamanya, tidak pernah meninggalkan anda, meski anda tahu bahwa maut merupakan keniscayaan dalam kehidupan.

Bacaan Lainnya
KPU Provinsi Sumatera Barat

Itulah pesan utama yang sepertinya ingin disampaikan dalam film Satu Hari dengan Ibu, produksi Ruang 29 Pictures, dengan tokoh utama Dewa, yang dibintangi oleh Chand Kelvin itu.

Awak media, Minggu (24/9/2023) malam, berkesempatan bersama istri Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Harnelli Bahar, dan tim dari Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik Provinsi Sumbar, melakukan nonton bareng di Cinema XXI Transmart Padang. Cucuran air mata pun tak terelakkan mengalir di pelupuk mata para penonton, tak terkecuali Ummi, panggilan akrab istri orang nomor satu Sumbar itu.

Masih dengan buliran air mata yang seolah sulit terhenti menganak di pelupuk matanya, Ummi memberikan testimoni usai film selesai digelar. Diakui oleh Harnelli, film ini sangat mengena di lubuk hatinya terdalam, terutama membuat ia terkenang akan sosok orang tua dan teringat bahwa betapa dirinya telah diberi amanah yang besar dengan menjadi seorang ibu.

“Film ini mengingatkan kita untuk berbakti. Bagi saya terasa sekali, karena orang tua saya sudah tidak ada lagi,” tutur Harnelli, didampingi para pemain film yang hadir dalam kesempatan itu.

Menurut Harneli, film bergenre drama keluarga yang berdurasi 1 jam 45 menit itu merupakan pilihan tontonan yang pas untuk disaksikan bersama keluarga. Bahkan, Ummi menegaskan, daripada sekedar menonton film drama korea bertema percintaan, remaja Sumbar sangat lebih baik untuk menonton film ini. Para orang tua juga bisa menjadikan film ini sebagai tontonan keluarga.

Istri Gubernur Sumbar Mahyeldi, Harnelli Bahar. (Foto: YEYEN/SumbarFokus.com)

“Film seperti ini sangat menginspirasi. Mengingatkan kita juga, kalau orang tua sudah meninggal, jangan lupa mendoakan orang tua.

Menurut Harnelli, orang tua bisa jadi telah berusaha mendidik anak dengan baik, mengajarkan keimanan pada anak, namun banyaknya pengaruh lingkungan yang ada membuat anak tidak terhindar hal-hal negatif, seperti tontonan yang mengandung pornografi atau kekerasan. Dengan hadirnya Satu Hari dengan Ibu, muncul alternatif pilihan tontonan yang menginspirasi, mendorong tumbuhnya hal-hal positif yang nanti bisa menjadi nilai baik pada sebuah keluarga.

Satu Hari dengan Ibu sendiri menceritakan kisah seorang Dewa, yang mengalami satu bentuk kejadian berulang, seperti sempat terjebak dalam kondisi time loop. Konsep time loop di sini merupakan plot dengan periode waktu berulang dengan kejadian yang juga berulang dialami oleh karakter yang bersangkutan, dan si karakter ingin bisa keluar dari kondisi tersebut.

Konsep time loop yang disajikan dalam film ini, meskipun kontradiktif dengan konsep waktu dalam keyakinan agama Islam, yang tidak mungkin bisa berulang, namun digunakan justeru untuk menggambarkan bahwa waktu merupakan hal yang sangat berharga untuk disia-siakan. Banyak hal penting yang bisa dilakukan, dan bahkan disesali, oleh seseorang dalam satu waktu yang dia lewatkan. Dengan adanya time loop dalam film ini, justeru penonton diajak untuk tidak menyia-nyiakan waktu sama sekali dan gunakan masa yang diberi oleh Allah untuk berbuat hal-hal baik di atas dunia, termasuk dengan keluarga.

Dewa, di sini, mengalami time loop, dan yang menyedihkannya, akhir dari setiap kejadian yang berulang itu adalah meninggal dunianya sang ibu karena terpeleset di kamar mandi. Dengan ada kesempatan kejadian hari yang berulang, Dewa pun berusaha menghindari kematian sang ibu dengan berbagai cara, seperti membersihkan kamar mandi ibu dan membelikan sandal jepit untuk digunakan ibu di kamar mandi agar tidak tergelincir karena lantai yang mungkin licin.

Kejadian yang sama, meninggalnya sang ibu, terus terjadi berulang kali, sedikitnya 12 kali dalam 12 hari. Setiap hari dalam waktu yang berulang itu, Dewa berusaha melakukan kebaikan seperti yang dipesankan ibunya, namun semua hal tersebut, meski telah ia lakukan, kematian sang ibu tetap tak terelakkan. Ibu selalu ditemukan tergeletak di depan kamar mandi, dan mengembuskan nafas terakhir di pelukannya.

Hingga Dewa pun nyaris merasa putus asa. Sampai ia bertemu Sorang ustadz, yang menekankan padanya bahwa Allah tidak akan memberi beban pada seorang hamba di luar kesanggupan si hamba, Dewa mulai merasa mendapat pencerahan. Dia mulai yakin bahwa semua ini akan ada hikmah setelahnya.

Dewa pun kembali memperbaiki hati yang nyaris putus asa, dan menemukan titik solusi terakhir yang menurutnya bisa menyelamatkan nyawa sang ibu, yaitu berjuang untuk bisa melakukan salat Subuh di awal waktu.

Satu scene dalam film “Satu Hari dengan Ibu”. (Foto: YEYEN/SumbarFokus).

Amat susah payah seorang Dewa melawan hawa nafsu sendiri, saat jam Subuh dibangunkan sang ibu untuk bersiap salat dan ke masjid. Sineas film ini berhasil menunjukkan pada penonton bahwa salat Subuh itu memang pantas untuk diperjuangkan dilakukan di awal waktu, membuat hati menjadi lapang, diri bersemangat, dan keberkahan serasa mengalir dari Sang Kuasa.

Dewa berhasil ke masjid untuk melakukan salat Subuh berjamaah. Muadzin masjid, di sini, cukup mengejutkan dan menarik hati penonton. Cupink topan, aktor yang memerankan muadzin dan jamaah masjid, tampil dengan performa khasnya rambut gondrong dan gimbal, namun tetap terkesan bersih dan menyejukkan. Aura wajah cupink yang selalu ramah dan senyuman tulusnya, membuat tokoh yang diperankannya bisa mencuri hati penonton. Bonus dari Cupink adalah lantunan adzan yang sangat indah diperdengarkan di sela sajian layar.

Dewa makin merasakan kelegaan di hatinya, sampai di detik di mana ia kembali menemukan sang ibu kembali terjatuh di depan kamar mandi, dengan posisi yang sama, namun kali ini tersenyum padanya, dan berkata bahwa dirinya dan suaminya sangat bangga memiliki anak seperti Dewa.

Kali ini Dewa tak lagi sesak karena ada perasaan tak ikhlas di dada. Di kejadian ibunya yang terus berulang meninggal di pelukannya sebelumnya, Dewa hanya bisa histeris, berteriak hebat. Namun kali itu, dia berusaha tenang meski tak bisa menahan sedih dan sesak. Perlahan dia mentalqin sang ibu, mengucapkan Laa illahhaillallah, muhammadurrasulullah. Di pelukannya, sang ibu mengikuti bacaan yang diucapkan Dewa, kemudian dengan tenang menutup mata.

Suara tangisan di kursi penonton liris terdengar dari beberapa sudut ruang Cinema XXI Transmart Padang. Scene yang ditampilan sineas menguras emosi, perasaan. Sisi lain dari film ini, terlihat satu hal istimewa, yaitu film ini berusaha menyajikan nilai-nilai adab dalam Islam, seperti adab pergaulan, di mana tidak ada pacaran, laki-laki dan perempuan non mahrom tidak bersalaman, dan lainnya. Di film ini juga terlihat bagaimana seorang gagah seperti Dewa berjuang keras untuk bisa bangun di jam Subuh dan pergi salat Subuh ke masjid. Terlihat juga bagaimana rasa persaudaraan seiman dalam Islam menonjol dengan saling peduli dengan permasalahan yang menimpa saudara seiman lainnya.

Selain Chand Kelvin dan Cupink Topan, Film ini juga diisi oleh nama-nama seperti Vebby Palwinta (sebagai Putri), Vonny Anggraini (sebagai ibu Dewa), Muzakki Ramdhan, Hifdzi Khoir, Muhammad Iqbal, Muhammad Rizly Ciaxman, Rony Helmi, Aulia Al Azizi, Ricky Perdana, Irfan Govinda, dan Rizal Armada.

Menurut produser yang hadir dalam kesempatan itu, Novandrian dan Dimas Luqman, salah satu tantangan yang cukup berat dalam kegiatan produksi film Satu Hari dengan Ibu adalah bahwa tim harus menjaga kontinuitas tampilan scene untuk kejadian-kejadian yang berulang.

“Seperti posisi jam, di mana jam itu, harus kita ulang lagi, kita set ulang lagi. Bajunya juga. Ada scene yang bajunya harus sama, ada yang beda. Tantangan teknis terbesarnya ada di situ. Tapi Alhamdulillah, teman-teman berhasil melakukannya dengan baik, sehingga tantangan teknisnya bisa kita lalui,” sebut produser, Dimas Luqman. (003)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait