Tradisi Malamang Khas Padang Pariaman

Tradisi malamang khas Padang Pariaman. (Foto: MUHAMMAD SHIDDIQ PUTRA/SumbarFokus.com)

PADANG (SumbarFokus)

Lemang atau lamang dalam bahasa minang adalah salah satu makanan tradisional khas masyarakat Minangkabau yang terbuat dari beras ketan (puluik) yang dimasukkan kedalam buluh bambu yang didalamnya sudah dilapisi daun pisang.

Bacaan Lainnya

Tradisi malamang sendiri telah tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat Padang Pariaman.

Tradisi malamang pertama kali diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin kepada masyarakat Padang Pariaman pada saat beliau menyiarkan agama islam di daerah Ulakan.

Mayoritas masyarakat di Padang Pariaman menyakini, sejarah tradisi Malamang tidak dapat dilepaskan dari peran dan perjuangan Syekh Burhanuddin untuk menyiarkan agama Islam di Minangkabau.

Malamang dapat dikatakan metode dakwah yang digunakan oleh Syekh Burhanuddin untuk mengajarkan perbedaan makanan halal dan haram dalam ajaran Islam kepada masyarakat di daerah Ulakan, Padang Pariaman.

Syekh Burhanuddin memperkenalkan cara memasak yang bisa dipastikan tidak akan tercampur antara yang halal dan yang haram, yaitu dengan cara memasak dengan buluh bambu yang didalamnya belum tersentuh siapapun.

Disebut malamang juga karena proses masaknya, yaitu dengan cara memasukkan beras ketan yang diberi santan yang sudah diberi garam lalu dimasukkan kedalam bambu dan di bakar menggunakan bara api.

Tradisi malamang biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, peringatan Maulid Nabi, baralek (pesta pernikahan), perayaan hari kematian, dan lain sebagainya. (BBS/Magang/Zeni)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait