Sorotan juga diarahkan ke kawasan Hulu DAS Kuranji Kota Padang. Kawasan yang sebelumnya disebut sebagai hutan lindung itu kini diduga telah berubah menjadi area perladangan.
“Ancaman galodo bersiap datang dan mengancam warga Kota Padang,” tulis WALHI dalam unggahannya.
Dalam unggahan lain, WALHI turut menyoroti keberadaan penanda lokasi di Google Maps bernama “Pondok Pak Dewan Dinal Ardi” yang berada di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Barisan.
WALHI meminta Dinas Kehutanan dan BKSDA Sumbar segera melakukan verifikasi terhadap lokasi tersebut.
“Bila benar, kenapa bisa ada perladangan pada kawasan SM Bukit Barisan atas nama anggota DPR,” tulis WALHI.
WALHI menilai berbagai bencana ekologis yang terjadi di Sumbar saat ini merupakan dampak dari lemahnya perlindungan kawasan hutan dan minimnya penegakan hukum terhadap pelaku perusakan lingkungan.
Bahkan di akhir unggahannya, WALHI menyampaikan sindiran keras melalui tulisan “WANTED”.
“Dicari pemimpin Sumatera Barat dan aparat penegak hukum untuk bertanggung jawab atas bencana ekologis hari ini,” tulis WALHI Sumbar. (000/003)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






