JAKARTA (SumbarFokus)
Pemerintah menyiapkan Badan Usaha Milik Negara sebagai pilar utama dalam mendorong investasi nasional melalui skema baru berbasis dividen.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menjelaskan, arah kebijakan tersebut menempatkan BUMN sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap modal asing.
“BUMN harus menjadi kontributor utama penggerak ekonomi kita. Kita harus mampu membangun investasi sendiri,” ujar Dony Oskaria.
Dia menyebut, konsep tersebut sejalan dengan pendekatan state capitalism, di mana negara memanfaatkan perusahaan milik negara untuk memperkuat ekonomi nasional.
Menurut dia, pola lama pengelolaan BUMN yang berjalan sendiri-sendiri tidak lagi relevan.
“Dulu BUMN itu berdiri sendiri-sendiri. Tidak ada korelasi korporasi yang kuat antarperusahaan,” kata Dony.
Dia menilai, kondisi tersebut membuat banyak BUMN kehilangan daya saing karena tidak terhubung secara sistematis.
Sebagai contoh, dia menyebut tidak adanya keterkaitan bisnis antara Pertamina, PLN, dan Bank Mandiri.
Dia juga menyinggung sejumlah BUMN yang mengalami penurunan bahkan berhenti beroperasi.
“Banyak perusahaan besar yang dulu kita kenal, sekarang mengalami penurunan bahkan tutup,” ujarnya.
Dalam skema baru, Danantara dibangun dengan basis dividen BUMN, bukan dari penjualan aset.
“Keberlanjutan Danantara sangat tergantung pada kemampuan kita mengelola BUMN,” katanya.
Dia menyebut, target dividen BUMN mencapai Rp170 triliun per tahun sebagai sumber pendanaan investasi.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






