Buya Apria Putra dikenal aktif mengumpulkan manuskrip kuno dari berbagai surau di Sumatera Barat. Hingga kini, dia telah menghimpun lebih dari 350 manuskrip berupa tulisan tangan, cap, ilustrasi, dan berbagai dokumen keagamaan lainnya yang disimpan di perpustakaan manuskrip Kurupkhanah Al-Asyirah An-Naqsyabandiyah.
Output dari kuliah lapangan tersebut berupa penyusunan katalog manuskrip yang nantinya akan disimpan di Laboratorium Pengkajian Islam dan Inovasi PAI Departemen IAI UNP sebagai dokumentasi akademik.
Salah seorang mahasiswa, Ivan Sentosa, mengatakan penelitian manuskrip kuno membutuhkan waktu yang lebih panjang agar hasil kajian lebih maksimal.
“Meneliti teks kuno tidak cukup satu hari. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengetahui karya-karya ulama terdahulu,” katanya.
Mahasiswa lainnya, Farel, mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui praktik Filologi Islam tersebut.
“Melalui praktik ini kami belajar tentang proses identifikasi, pembacaan, hingga analisis naskah kuno. Selain menambah ilmu, kegiatan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, dan kerja sama antar mahasiswa,” ujarnya.
Selain meneliti manuskrip, mahasiswa juga mempelajari sejarah surau sebagai pusat pendidikan Islam di Minangkabau pada masa lalu, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat studi agama dan pengembangan tradisi intelektual masyarakat. (000)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





