Contoh lain terjadi di sektor kereta api. Menurutnya, pendapatan non-tiket masih sangat kecil, padahal di negara maju sektor retail dan properti memberi kontribusi besar.
Empat Arah Perubahan BUMN
Dony menjelaskan, hasil evaluasi kemudian menentukan masa depan masing-masing perusahaan. Perusahaan yang tidak sehat, memiliki utang lebih besar dari aset, serta tidak punya prospek akan dilikuidasi agar tidak terus membebani negara.
Sementara, perusahaan yang masih memiliki nilai namun berada di luar bisnis inti akan didivestasi, baik kepada pihak internal maupun eksternal. Langkah ini dilakukan agar BUMN fokus pada sektor utama yang lebih strategis.
Untuk sektor yang memiliki banyak entitas serupa, pemerintah memilih jalur konsolidasi. Menurut Dony, penggabungan dilakukan agar skala usaha lebih besar, efisien, dan mampu bersaing. Contohnya pada bisnis rumah sakit, logistik, hingga pengelolaan aset.
Sedangkan perusahaan yang masih potensial namun memiliki masalah operasional atau keuangan akan direstrukturisasi. Melalui pembenahan manajemen dan pengawasan ketat, perusahaan tersebut diharapkan kembali sehat dan produktif.
βDari lebih seribu entitas, ke depan akan disederhanakan menjadi sekitar 250 perusahaan yang benar-benar kompetitif dan sehat,β tegasnya.
Garuda dan Kimia Farma Mulai Pulih
Dony juga menyoroti restrukturisasi Garuda Indonesia dan Kimia Farma. Kimia Farma, disebut, mulai membaik setelah pengawasan ketat dan pembenahan sistem inventaris. Perusahaan kini berhasil mencatat EBITDA positif.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






