Selain itu, dia menyoroti pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah berbagai aspek kehidupan. Karena itu, generasi muda dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, berkolaborasi, dan mampu menciptakan solusi di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.
“Ijazah tetap penting, tetapi semangat untuk terus belajar sepanjang hayat jauh lebih penting. Masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling pintar, tetapi oleh mereka yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan,” katanya.
Mahyeldi juga menekankan pentingnya identitas sebagai modal menghadapi persaingan global. Menurutnya, nilai-nilai Minangkabau seperti tradisi merantau, budaya musyawarah, dan penghormatan terhadap pendidikan merupakan kekuatan yang relevan untuk menjawab tantangan masa depan.
“Menjadi orang Minang hari ini bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi menghadirkan kontribusi terbaik melalui ilmu pengetahuan, inovasi, kepemimpinan, dan karya nyata. Kita ingin generasi muda Minang hadir di panggung dunia, tetapi tetap memberi manfaat bagi bangsa dan daerah asalnya,” ujarnya.
Mahyeldi menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki kompetensi global, karakter yang kuat, dan komitmen kebangsaan. Menurutnya, perpaduan ketiga hal tersebut akan melahirkan talenta-talenta unggul yang mampu membawa Indonesia menuju masa kejayaannya.
Menutup paparannya, Mahyeldi menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi bangsa maju pada 2045.
“Saya percaya, sebagian arsitek Indonesia Emas 2045 sedang berada di ruangan ini. Karena masa depan tidak datang dengan sendirinya, tetapi dibangun oleh mereka yang berani mempersiapkannya mulai hari ini,” pungkasnya. (000/adpsb)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





