Menurutnya, program SSK menjadi salah satu langkah strategis untuk membekali peserta didik dengan pemahaman tentang dinamika kependudukan dan kaitannya dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan hingga lingkungan.
Harlina berharap sosialisasi tersebut dapat memperkuat pelaksanaan SSK melalui penyamaan persepsi, integrasi materi kependudukan secara kreatif, peningkatan peran guru sebagai fasilitator, serta kolaborasi lintas sektor yang disertai pemantauan dan evaluasi berkala.
Sementara itu, Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat Dedi Agustanto mengatakan bahwa bonus demografi merupakan peluang besar sekaligus tantangan yang harus dipersiapkan sejak dini. Melalui SSK, isu kependudukan dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran sehari-hari tanpa menambah beban kurikulum.
Materi yang diintegrasikan antara lain dinamika kependudukan, kesehatan reproduksi, pendewasaan usia perkawinan, pencegahan pernikahan dini, pencegahan stunting, serta pelestarian lingkungan.
“Guru memiliki peran penting dalam menyampaikan edukasi kepada generasi muda. Karena itu, isu-isu kependudukan perlu diperkenalkan sejak dini melalui pendidikan di tingkat SD, SMP hingga SMA, termasuk pencegahan pernikahan dini, stunting, dan peningkatan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Dedi menambahkan, pelaksanaan SSK juga sejalan dengan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) yang disusun lintas sektor. Program tersebut diharapkan turut mendukung pencapaian berbagai indikator pembangunan, seperti penurunan angka kematian ibu dan bayi, percepatan penurunan stunting, peningkatan lama sekolah, serta peningkatan ketertiban administrasi kependudukan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





