Mengenal Baju Kuruang Basiba, Pakaian Khas Perempuan Minangkabau

Penjelasan tentang baju basiba
Baju kuruang basiba adalah pakaian yang dikenakan perempuan Minangkabau yang bentuk dan modelnya menutupi dan mengurung aurat perempuan. (Foto: Google/Ist.)

PADANG (SumbarFokus)

Masyarakat Minangkabau terkenal dengan adat dan budayanya yang dirawat turun temurun, termasuk soal pakaian adat yang masih diwariskan hingga kini.

Bacaan Lainnya
KPU Provinsi Sumatera Barat

Salah satu pakaian khas di Minangkabau yakni baju kuruang basiba. Baju kuruang basiba dipakai oleh perempuan Minangkabau. Namun, seiring perkembangan zaman, pakaian ini umumnya dipakai saat hari-hari besar atau kegiatan adat. Lebih lanjut, simak penjelasan tentang baju basiba khas perempuan Minangkabau berikut ini.

Dikutip dari berbagai sumber, baju kuruang basiba adalah pakaian yang dikenakan perempuan Minangkabau yang bentuk dan modelnya menutupi dan mengurung aurat perempuan. Lengannya panjang sampai pergelangan tangan.

Pakaian ini memiliki makna dalam setiap bentuknya, besarnya lengan baju untuk memudahkan si pemakai ketika mengambil air wudu atau akan melakukan pekerjaan sehari-hari. Dalam hal ini, baju kuruang basiba berfungsi religius yang melambangkan pemakainya wanita yang taat melaksanakan ajaran agama Islam.

Kemudian ada bagian kikiek yang disebut daun budi, bagian ini merupakan pelindung ketiak agar tidak terlihat. Kikiek mencerminkan bagaimana seorang perempuan Minangkabau memiliki fungsi menutupi malu.

Mamakai raso jo pareso, manaruah malu jo sopan, yang bermakna adat mamakai, dipakai siang jo malam yang berarti di manapun berada, perempuan Minangkabau tetap berpedoman pada adat basandi syara’, syara’ basandi  kitabullah.

Selanjutnya, baju berbentuk kurung artinya baju yang longgar berbentuk kurungan yakni kain pandindiang miang, Ameh pandindiang malu. Artinya pakaian bagi orang minang adalah sebagai pelindung tubuh. Pakaian juga sebagai penutup malu.

Perempuan Minangkabau menutup malu dengan memakai pakaian yang bersifat mengurung tidak menampakkan lekuk tubuh.

Kemudian, lengan lapang. Mengandung pepatah tagak baapuang jo aturan, baukua jangko jo jangka. Artinya, segala tindak tanduk perempuan Minangkabau harus sesuai dengan aturan, pandai membawa diri dalam kondisi apa pun, menjaga sopan santun.

Perkembangan Pakaian Khas Perempuan Minang

Dikutip dari website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, baju kuruang adalah baju yang sifatnya mengurung atau menutup anggota badan seperti tangan, dada, paha, dan kaki.

Baju kuruang basiba diperkirakan populer dipakai masyarakat Minangkabau setelah abad ke-19, yang semula pakaian perempuan dibuat pendek, tetapi diperpanjang sampai ke bawah panggul dan dikenakan sehari-hari.

Bentuk pakaian perempuan Minangkabau mengalami perubahan semenjak masa Paderi 1803 (Pembaruan Islam I) akibat adanya akulturasi dengan bangsa India, Timur Tengah, Cina, dan Melayu. Bentuk-bentuk pakaian pada masa itu berbentuk jubah, kerudung, dan cadar.

Barulah pada fase kedua, dikenal sebagai masa Pembaharuan Islam Awal abad ke-20 yang ditandai dengan kepulangan tokoh Islam antara lain Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Syekh Jamil jambek, H Abdullah Ahmad, dan Syekh Muhammad Taher.

Para tokoh ini kemudian mengembangkan paham pembaharuan yang berbeda dengan abad ke-19. Pada awal abad ke-20 pakaian Islam berubah menjadi pakaian baju kurung dengan penutup kepala.

Model abad ke-20, hampir sama bentuknya dengan pakaian perempuan Minangkabau yang berkembang sekitar tahun 1682. Namun, munculnya baju kurung basiba yang dipopulerkan oleh Perguruan Rahmah, tidak lagi mengikuti model Paderi abad ke-19.

Bedanya dengan kedatangan Islam pertama yang dipengaruhi oleh pakaian dari Cina yang biasanya dibuat pendek kini diperpanjang sampai ke bawah panggul.

Itulah penjelasan tentang baju basiba khas Perempuan Minangkabau. Semoga bermanfaat! (006/BBS)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait