Peristiwa tersebut ditandai dengan penyerbuan dan pembakaran loji-loji, gudang, serta benteng Belanda. Penyerbuan pertama dilakukan pada 7 Agustus 1669 ketika pasukan berbangso taji dari Pauh dan Koto Tangah dengan dukungan penuh masyarakat melakukan penyerangan terhadap loji-loji Belanda.
Penyerbuan tersebut mengakibatkan jatuhnya korban dari kedua belah pihak serta menimbulkan kerugian besar bagi pemerintah Belanda. Penyerbuan kedua kemudian dilakukan pada 1680.
“Momen penyerangan pertama tanggal 7 Agustus 1669 kemudian kita peringati sebagai Hari Jadi Kota padang, sembari mengenang kembali nilai-nilai moral dan nilai-nilai keberanian yang dipersembahkan secara tulus oleh tokoh-tokoh yang berjasa dalam mendirikan dan membangun kota yang kita cintai ini,” urainya.
Transformasi Ekonomi Kota Padang Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan, Hari Jadi Kota menjadi momentum untuk melihat masa lalu dengan hormat, membaca keadaan hari ini dengan jujur, dan menyiapkan masa depan dengan berani.
“Kita tetap berpijak pada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kita ingin maju tanpa kehilangan identitas, tumbuh tanpa meninggalkan masyarakat yang lemah, dan membangun tanpa merusak lingkungan. Warisan terbesar yang ditinggalkan pendahulu kita bukanlah bangunan. Warisan terbesar mereka adalah semangat untuk terus bangkit,” katanya.
Dikatakannya, semangat untuk bangkit tersebut kini dilanjutkan melalui Transformasi Ekonomi Kota Padang. Transformasi ekonomi bukan sekadar mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi juga mengubah cara kota bekerja, memperkuat produktivitas, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, menaikkan kelas usaha lokal, dan memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan secara lebih merata.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





