Oleh JAMALDI
Posisi Semen Padang FC hari ini bukan lagi sekadar cerita tentang papan klasemen ini adalah potret kegagalan yang terakumulasi sepanjang musim. Peringkat ke-17 dengan 20 poin dari 27 laga, tertinggal empat angka dari Persis Solo, adalah konsekuensi, bukan kebetulan. Kabau Sirah kini tidak sedang “tertekan” mereka sedang berjalan menuju degradasi.
Tujuh laga tersisa sering dibungkus sebagai peluang. Tapi realitasnya, ini adalah hitungan mundur. Target menyapu bersih empat laga kandang terdengar heroik, namun tanpa perubahan drastis, itu hanya ilusi optimisme. Masalah utama tim ini bukan sekadar beratnya lawan, melainkan absennya identitas permainan yang konsisten sejak awal musim.
Sebagai klub, Semen Padang FC adalah simbol kebanggaan Sumatra. Nilai historis dan emosionalnya bahkan melampaui klub seperti Bhayangkara FC di mata banyak publik daerah. Namun sepak bola tidak mengenal romantisme. Nama besar tidak pernah otomatis berbuah poin. Dan hari ini, kebanggaan itu sedang berada di titik paling rapuh.
Tiga kali pergantian pelatih dalam satu musim memperlihatkan satu hal: klub ini kehilangan arah. Kini tanggung jawab berada di pundak Imran Nahumarury bersama direktur teknik Yeyen Tumena. Tapi waktu mereka bukan untuk membangun dari nol melainkan menyelamatkan apa yang tersisa.
Kegagalan meraih poin saat menghadapi Persis Solo menjadi cermin paling nyata. Kondisi lapangan yang tergenang memang faktor eksternal, namun justru di situlah terlihat minimnya fleksibilitas. Ketika strategi utama tidak berjalan, tim tampak tanpa arah. Sepak bola bukan hanya soal filosofi bermain, tapi tentang kesiapan menghadapi skenario terburuk.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






