Pemerintah Tegaskan Harga Sawit Tetap Ikuti Pasar Dunia, DSI Fokus Tutup Kebocoran Ekspor

Ilustrasi. (Foto: TIM/SumbarFokus.com)

Menurut Rosan, berdasarkan perbandingan data impor Amerika Serikat, harga jual di negara tujuan bahkan bisa mencapai dua kali lipat dibanding harga ekspor yang dilaporkan dari Indonesia.

Dia menegaskan langkah tersebut sejalan dengan prinsip Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terkait tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas perdagangan internasional.

Meski demikian, pengumuman pembentukan DSI sempat memicu gejolak di pasar sawit.

Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) mencatat harga tandan buah segar (TBS) di sejumlah daerah mengalami penurunan.

Bacaan Lainnya

Di Sumatera Selatan, harga TBS turun dari Rp3.577 per kilogram menjadi Rp2.722 per kilogram.

Kemudian di Kalimantan Tengah turun dari Rp3.483 menjadi Rp3.163 per kilogram, Riau dari Rp3.397 menjadi Rp3.070 per kilogram, Jambi dari Rp3.266 menjadi Rp2.944 per kilogram, dan Sumatera Utara dari Rp3.299 menjadi Rp2.899 per kilogram.

Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto menilai penurunan harga dipicu ketidakpastian aturan teknis yang memunculkan kepanikan pasar dan spekulasi di tingkat pelaku usaha.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan harga CPO internasional justru sedang menguat dan tetap menjadi acuan utama perdagangan sawit nasional.

Menurutnya, gejolak pasar terjadi karena kebijakan baru saja diumumkan sehingga pasar masih menunggu kepastian aturan teknis pelaksanaan.

Pemerintah menyebut DSI akan mengelola ekspor tiga komoditas utama, yakni batu bara dengan kontribusi 8,65 persen terhadap ekspor nasional, CPO sebesar 8,63 persen, dan ferro alloy sebesar 5,82 persen.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait