Pertamina AFT Minangkabau Dorong Masyarakat Kembangkan Nilai Nipah

Bertempat di Tiram, Nagari Seulayat Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau memberikan pendampingan kepada masyarakat pesisir Pantai Tiram dalam pengembangan potensi tanaman nipah, baru-baru ini. (Foto: Ist/SumbarFokus.com)

PADANG PARIAMAN (SumbarFokus)

Bertempat di Tiram, Nagari Seulayat Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau memberikan pendampingan kepada masyarakat pesisir Pantai Tiram dalam pengembangan potensi tanaman nipah, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

“Pantai tiram merupakan kawasan konservasi yang memiliki potensi nipah yang besar yaitu seluas 7 hektar. Selama ini masyarakat hanya memanfaatkan buah nipah yang muda untuk sayur dan lidinya untuk sapu, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang manfaat dan cara pengolahan nipah,” ungkap Community Development Officer AFT Minangkabau Wahyu Hamdika.

Berdasarkan hal ini, disebutkan, maka Pertamina Patra Niaga AFT Minangkabau, melalui Program CSR, melakukan pendampingan, sebagai bentuk kontribusi dan membangun masyarakat agar lebih berdaya, melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas pada masyarakat untuk pengolahan dan diversifikasi produk nipah menjadi nilai ekonomis. Contohnya pemanis, jeli, es krim, dan makanan alternatif, yang dapat dijadikan usaha kelompok masyarakat.

Tumbuhan nipah sendiri tergolong salah satu jenis tumbuhan penghuni komunitas hutan mangrove bagian belakang, perbatasan ekosistem mangrove dengan daratan, yang tumbuh di sepanjang sungai. Di Pantai Tiram, tumbuhan ini tersebar hampir merata hingga ke muara pantai.

Pelatihan pengolah nipah ini, diketahui, diikuti oleh 29 orang masyarakat pesisir tiram, yang terdiri dari kelompok wanita nelayan, kelompok UMKM, kelompok konservasi Raja Samudera, dan Pol Airud Ulakan. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumber daya yang ada.

“Selain itu, pemanfaatan hutan nipah juga mengurangi potensi alih fungsi lahan untuk kegiatan perkebunan sehingga ekosistem pantai dan rawa habitat tanaman nipah serta mangrove menjadi terjaga,” sebut Wahyu lagi.

Pembina kelompok Raja Samudera, Juwaldi, menyebutkan, pelatihan pengolahan nipah kali ini sangat dibutuhkan kelompok dan memiliki manfaat yang sangat besar, karena Pantai Tiram merupakan kawasan wisata dan hasil olahan nipah ini nantinya dapat meningkatkan warga sekitar dan kelompok UMKM lainnya.

“Potensi tanaman nipah di Tiram, Ulakan, sangat besar. Pelatihan ini merupakan bentuk peningkatan kapasitas, serta edukasi kepada seluruh masyarakat pesisir pantai, untuk menjaga dan merawat ekosistem nipah dan mangrove, serta meningkatkan awareness akan pentingnya menjaga kawasan konservasi di Ulakan,” ujar Juwaldi.

Ke depan, diharapkan, masyarakat pesisir Tiram bisa melakukan olahan produk nipah untuk tambahan usaha dan peningkatan ekonomi baik secara pribadi maupun secara berkelompok. Selain itu, diharapkan juga peserta pelatihan nantinya mampu meningkatkan diversifikasi pangan di pesisir Tiram, yang kemudian dapat meningkatkan ekonomi masyarakat berbasis kawasan. (003)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait