Pada kelompok usia 18-25 tahun, tingkat inklusi keuangan mencapai 95,69 persen dengan tingkat literasi sebesar 73,32 persen. Sementara kelompok pelajar dan mahasiswa mencatat inklusi keuangan 92,76 persen, sedangkan tingkat literasinya baru 62,72 persen.
“Artinya, anak muda kita sudah semakin dekat dengan produk dan layanan keuangan, tetapi belum semuanya punya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakannya secara bijak,” ujarnya.
Firmansyah menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Tingginya akses terhadap produk dan layanan keuangan harus diimbangi kemampuan mengambil keputusan secara cerdas dan bertanggung jawab.
Dia berharap mahasiswa Batam dapat berkembang dari pengguna menjadi pencipta inovasi sekaligus pelaku ekonomi digital. Posisi Batam sebagai pusat industri, perdagangan, jasa, dan investasi dinilai memberikan ruang besar bagi generasi muda untuk menciptakan peluang ekonomi baru.
“Saya berharap mahasiswa Batam tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pencipta inovasi dan pelaku ekonomi digital,” katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perguruan tinggi, industri, dan generasi muda. Kolaborasi itu diharapkan membangun ekosistem keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Firmansyah juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren.
“Jangan hanya bertanya, apa yang sedang tren. Tetapi bertanyalah, apa yang fundamental, apa risikonya, dan bagaimana teknologi ini bisa menciptakan nilai,” kata Firmansyah.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





