Bukan Sekadar Angka Sertifikat: Ikhtiar Menyingkap “Lemari” Warisan Budaya Sumatera Barat

Salah satu penganan khas Kepulauan Mentawai yang telah diakui resmi sebagai WBTbI adalah Sagu Kepurut, yang masuk dalam domain Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional. (Foto: Disdikbud Kabupaten Kepulauan Mentawai/SumbarFokus.com)

Menjadi Penggerak Ekonomi dan Kaya Akan Filosofi

Menjaga warisan budaya tidak berhenti pada upaya mempertahankan sebuah tradisi agar tidak punah. Ketika sebuah WBTb tetap hidup di tengah masyarakat, ada potensi lain yang bisa tumbuh di sekitarnya. Warisan itu kemudian dapat menjadi bagian dari ruang pendidikan, pariwisata, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.

Pacu Jawi adalah salah satu contohnya. Ketika diangkat menjadi ajang, tradisi ini mampu menarik wisatawan. Mereka datang untuk menyaksikan pacuan, tetapi juga untuk menggerakkan kuliner, transportasi, UMKM, penginapan hingga usaha masyarakat sekitar.
Satu warisan pun akhirnya menciptakan efek domino.

“Kalau kita bisa mengembangkan WBTb ini, sebenarnya dampaknya banyak. Bukan hanya untuk kebudayaan, tetapi masuk juga ke pariwisata dna ekonomi masyarakat,” Asril menambahkan, dengan diangguki Sandra, yang sudah lama berkecimpung di bidang WBTb Sumbar.

Bacaan Lainnya
Rekapitulasi status berkas pengusulan WBTb Sumbar untuk menjadi WBTb Indonesia dan bersertifikat. (Foto: Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat/SumbarFokus.com)

Potensi serupa ada pada kekayaan kuliner Sumatera Barat. Nama-nama kuliner tersebut bukan sekadar penganan. Sandra mencontohkan, filosofi yang dimuat dalam kuliner Lamang Sialang di Talang Babungo, Kabupaten Solok.

“Filosofinya adalah simbol untuk mempererat silaturahim keluarga. Dengan sajian yang lengket, itu menggambarkan hubungan keluarga harus erat. Momennya biasanya di hari raya. Semua masakan itu ada filosofi di baliknya, ada pesan yang disampaikan,” sebut Sandra.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait