Sebuah peristiwa kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat ulama senior Buya Sayuti Khatab mendampingi Semen Padang FC ke Thailand, seorang pimpinan perusahaan wafat. Ristawardi diminta menyampaikan pidato pelepasan jenazah.
Pidato yang disampaikan dengan tulus itu membuat pimpinan perusahaan terkesan.
“Usai acara, para pimpinan PT Semen Padang bertanya siapa ustaz tadi. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa sosok yang baru saja menyampaikan tausiah itu adalah seorang cleaning service,” ujarnya.
Sejak saat itu. Dia dipindahkan ke kantor dan membantu pembinaan rohani karyawan. Ia kemudian dipercaya menjadi Kepala Urusan Konseling Rohani.
Selama 35 tahun mengabdi di PT Semen Padang, Buya Ristawardi tidak hanya menjadi karyawan perusahaan, tetapi juga menjadi pembina spiritual bagi para pekerja.
Pada 1982, dia mengikuti pelatihan kader mubaligh Dewan Masjid. Setahun kemudian namanya mulai dikenal, dan pada 1986 ia sudah rutin berceramah di berbagai daerah di Sumatera Barat.
Lahir di Baso, Bukittinggi, 10 Juni 1952, Ristawardi tumbuh dalam budaya Minangkabau yang kuat. Dalam ceramahnya, ia sering mengaitkan ayat dan hadis dengan pepatah-petitih Minang serta falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
Pendekatan dakwah yang kultural itu membuat pesan agama terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Buya Ristawardi juga mengenang peran PT Semen Padang dalam mendukung pengkaderan mubaligh di Sumatera Barat. Sekitar 1992, perusahaan mendukung program pelatihan mubaligh yang digagas Buya Sayuti Khatab di Masjid Raya Al Ittihad Indarung.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






