Dewi si Perempuan Panti: Bergeming di Tengah Badai Demi Asa Generasi

Anak-anak Panti Asuhan LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Inaya terlihat sedang bermain. (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

Seorang anak tidak menentukan keadaan ketika dilahirkan. Dia tidak memilih apakah akan tumbuh dalam keluarga yang utuh, mengalami kehilangan, atau menghadapi keterbatasan ekonomi. Karena itu, latar belakang keluarga semestinya tidak menjadi alasan untuk membatasi kesempatan anak memperoleh pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik.

Bagi Dewi, kecintaan kepada anak-anak menjadi alasan untuk terus merawat mereka. Namun, pengasuhan juga menuntut ketekunan menghadapi persoalan yang datang silih berganti.

Jumlah anak di panti tidak selalu tetap. Ada yang datang, ada pula yang kembali ke keluarga setelah orang tua atau kerabatnya berhasil ditemukan. Dewi menyebut, jumlah penghuni pernah mencapai 32 anak, kemudian berkurang setelah sejumlah anak bertemu kembali dengan orang tua mereka.

“Jumlahnya bisa berubah-ubah setiap hari. Ada yang datang, ada yang pergi,” kata Dewi.

Kalimat itu menggambarkan kehidupan pengasuhan yang dinamis. Panti bukan hanya menjadi tempat menerima anak-anak yang membutuhkan pertolongan, tetapi juga tempat berlangsungnya upaya penelusuran keluarga.

Dewi berusaha mencari informasi melalui media sosial. Dia berharap keberadaan orang tua atau kerabat anak dapat ditemukan sehingga anak yang masih memiliki keluarga dan memungkinkan untuk kembali dapat memperoleh pengasuhan dalam lingkungan keluarga.

Salah satu anak yang dibawa ke panti, menurut cerita Dewi, diantar oleh ayahnya karena sang ibu pergi meninggalkan keluarga. Setelah dilakukan penelusuran, keberadaan ibu anak tersebut akhirnya ditemukan.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait