“Memang tidak ada mayat bayi. Fitnah saat itu kejam sekali,” ujar Dewi.
Dia juga mengingat sebutan panti neraka yang diarahkan kepada tempat pengasuhan itu. Menurutnya, sebutan tersebut berkaitan dengan keberadaan anak-anak yang lahir di luar perkawinan dan kemudian diasuh di panti.
Bagi Dewi, sebutan itu menyakitkan. Anak-anak yang diasuhnya tidak memilih keadaan yang mengiringi kelahiran mereka. Mereka tidak menentukan latar belakang keluarga dan tidak seharusnya menanggung stigma atas keadaan yang tidak mereka ciptakan sendiri.
Di tempat pengasuhan itu, yang dibutuhkan anak-anak adalah perlindungan, bukan penghakiman.
Fitnah dan cacian menjadi bagian pahit yang harus dilewati Dewi. Dia harus tetap menjalankan tanggung jawab pengasuhan, sementara dirinya sendiri menghadapi perkataan yang menyudutkan.
Di tengah keadaan tersebut, dia tidak ingin pengalaman pahit itu menjadi alasan untuk berhenti merawat anak-anak.
“Insyaallah tetap pantang menyerah,” kata Dewi.
Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya ada tanggung jawab yang harus dijalankan dari hari ke hari. Bertahan bukan berarti semua persoalan selesai. Bertahan berarti tetap berusaha menjalankan tanggung jawab ketika kebutuhan anak-anak terus berjalan dan berbagai masalah belum seluruhnya teratasi.
Besarnya Kebutuhan Biaya
Ada hal yang tidak langsung terlihat dari senyum anak-anak di panti: besarnya biaya untuk memastikan kehidupan mereka terus berjalan.
Menurut perkiraan Dewi, kebutuhan operasional panti mencapai sekitar Rp100 juta per bulan. Pengeluaran tersebut mencakup makanan, gaji perawat dan pengasuh, upah pekerja, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





