Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Internasional UNP Deski Beri mengatakan, tingginya angka pengangguran di Sumatera Barat menjadi salah satu alasan UNP memperluas orientasi lulusannya ke pasar kerja internasional.
“Tahun ini kami akan mengelola pelatihan bagi 500 calon pekerja migran dan memprioritaskan alumni UNP. Kami juga akan mengirimkan 200 pekerja migran secara berkelanjutan ke Jepang — bukan sebagai buruh kasar, melainkan sebagai tenaga ahli: engineer, staf hotel, tenaga keperawatan, dan profesional di pusat-pusat perawatan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, program tersebut telah memasuki tahap yang lebih konkret. UNP telah menandatangani nota kesepahaman dengan mitra di Jepang dan membangun komunikasi dengan sejumlah negara industri di Asia, termasuk Taiwan dan Tiongkok, dengan dukungan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).
Selain membahas strategi internasionalisasi kampus, forum tersebut juga menghadirkan pembekalan mengenai peluang kerja luar negeri melalui Migrant Center UNP bekerja sama dengan BP3MI Sumatera Barat. Materi tersebut disampaikan untuk memberikan pemahaman kepada para lulusan SMA dan SMK mengenai prosedur resmi bekerja di luar negeri sekaligus mencegah praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian P2TP2A Kota Padang Ermiati juga memberikan materi mengenai pencegahan perundungan di kalangan pelajar sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Reputasi UNP Dwi Sudarno Putra memaparkan strategi peningkatan Employer Reputation Survey yang menjadi salah satu indikator penting dalam pemeringkatan universitas dunia versi QS World University Rankings dan Times Higher Education.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





