Sementara itu, Ketua Yayasan Pertiwi Kodya Padang Dian Puspita Fadly Amran menyoroti pentingnya membangun budaya sekolah yang ramah anak dan bebas dari perundungan atau bullying.
Menurutnya, praktik bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ucapan maupun hukuman yang mempermalukan siswa di depan teman-temannya.
Karena itu, pendekatan pendidikan dinilai harus lebih manusiawi, komunikatif dan memperhatikan kondisi psikologis anak.
“Pendekatan pendidikan harus lebih manusiawi, komunikatif, dan memperhatikan kondisi psikologis anak,” ujarnya.
Dia berharap seminar dan workshop tersebut menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan menyenangkan di lingkungan Yayasan Pertiwi.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah dosen Program Studi Psikologi Unand sebagai narasumber, yakni Yantri Mapitra, Meria Susanti, Nila Anggreiny, dan Izzanil Hidayati.
Selain itu, Sri Hayati Maigus Nasir juga memberikan materi mengenai Emotional Freedom Technique (EFT) yang diharapkan dapat menjadi bekal bagi guru dalam mengelola stres serta membantu menyelaraskan emosi siswa di sekolah. (000/pdg)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






