โSaya melihat langsung bagaimana perusahaan yang dulu menjadi kebanggaan bangsa berada dalam kondisi yang sangat berat. Saat itu saya berpikir perusahaan ini harus diselamatkan,โ ujarnya.
Dia mengatakan, saat itu fasilitas produksi utama tidak beroperasi, jumlah karyawan menyusut drastis, dan utang perusahaan mencapai sekitar Rp28 triliun.
Sebelum hadirnya Danantara, kata Dony, penyelamatan perusahaan hanya dapat dilakukan melalui mekanisme Penyertaan Modal Negara (PMN).
Menurut dia, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan karena PMN bukan instrumen bisnis sehingga ruang gerak restrukturisasi menjadi terbatas.
Dari pengalaman tersebut kemudian lahir gagasan untuk membangun Danantara sebagai sovereign wealth fund yang mengonsolidasikan kekuatan BUMN Indonesia.
โKalau kita ingin BUMN menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional, maka pengelolaannya harus terintegrasi dan memiliki arah yang sama. Danantara dibentuk untuk tujuan itu,โ tegasnya.
Dony menegaskan Danantara bukan sekadar lembaga investasi, tetapi juga instrumen transformasi untuk membangun sinergi, efisiensi, dan daya saing BUMN secara menyeluruh. (000)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





