Like, Share, dan Kepercayaan: Wajah Baru Polri di Ruang Digital

Seorang pemuda terlihat antusias menyaksikan tayangan konten di akun TikTok @david_wewe_official. (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

Di ruang digital, David bukan sekadar membagikan video penangkapan pelaku. Ia sedang membangun ruang tanya jawab yang membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan informasi kepolisian.

Fenomena Ferdians dan David Wewe menunjukkan satu hal: ruang komunikasi antara polisi dan masyarakat kini tak hanya terjadi di kantor polisi atau di pos polisi pinggir jalan, namun juga di layar ponsel. Pertanyaan, kritik, apresiasi, dan harapan masyarakat mengalir di kolom-kolom komentar, wujud semakin terbukanya ruang komunikasi, informasi, dan edukasi dari kepolisian bagi masyarakat secara digital.

Data dari DataReportal Digital 2026 Indonesia menunjukkan, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Mereka menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam sehari berselancar di berbagai platform media sosial. Angka ini menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, tetapi juga telah menjadi salah satu ruang publik tempat opini dibentuk, informasi disebarkan, dan kepercayaan tumbuh.

Di ruang digital, wajah Polri ikut berkembang. Pendekatan terhadap masyarakat kini juga hadir melalui video pendek, siaran langsung di media sosial, atau percakapan di kolom komentar. Ini merupakan bentuk adaptasi Polri menghadapi tantangan zaman digital, yang sekaligus juga membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal, bertanya, bahkan memberikan kritik dan masukan secara langsung. Muaranya, ruang digital bahkan kemudian akan menjadi jembatan yang bisa memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Bacaan Lainnya

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait