Ibu dan Salat, Dua Kunci untuk Kombes Pol Dwi Nur Setiawan

Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol Dwi Nur Setiawan. (Foto: YEYEN/SumbarFokus.com)

Oleh Sisca Oktri Santi

 

Bacaan Lainnya

PADANG (SumbarFokus)

Kombes yang satu ini tak sekedar khas dengan peci yang sering nagkring di kepalanya. Bukan sekedar omongan, dia membuktikan bahwa peci yang dia gunakan untuk menutup kepala saat salat memang harus mencerminkan perilaku mengutamakan mengerjakan salat, setepat waktu sebisa yang dilakukan. Menurutnya, salat di awal waktu harus jadi prioritas. Seperti yang dijumpai wartawan siang itu, sang Kombes meminta wartawan berkenan menunggu dirinya untuk diwawancara, izin untuk mengerjakan salat Zuhur terlebih dahulu.

Begitulah dia, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat (Sumbar) Kombes Pol Dwi Nur Setiawan. Ternyata tak hanya peci yang terletak di kepala, sang Kombes membuktikan tanpa banyak kata, bahwa pekerjaan tak boleh membuat seorang muslim sampai menomorsekiankan salat yang wajib hukumnya dalam agama Islam.

“Iya. Saya memang berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan salat di awal waktu. Ini sesuai pesan orang tua saya, ibu saya berpesan untuk jangan pernah meninggalkan salat, dan kerjakan salat di awal waktu sebisa kamu,” demikian Dwi bercerita, saat wartawan memuji perilaku yang ditunjukkan tanpa sengaja di momen bertemu wartawan tanpa janjian itu.

Menurut Dwi, agama telah memberi aturan, yang tidak memberatkan bagi semua, asalnya manusia yang bersangkutan sungguh-sungguh melaksanakan.

“Agama kan tidak memberatkan. Ada kondisi di mana salat dilakukan dalam situasi darurat, salat di perjalanan, dan lainnya. Tapi selagi bisa mendahulukan salat, dengan cara yang normal, ya tetap harus diutamakan,” sebutnya lagi.

Dwi benar-benar melaksanakan amanat dari sang ibu, Setiati, agar dirinya tak pernah meninggalkan salat, juga melakukan puasa sunnah, sekuat dia bisa.

“Jika tidak ada kegiatan luar kota, saya ‘Senin-Kamis’ (red-puasa Sunnah). Jika kegiatan luar kota, jadi musafir, biasanya tidak puasa,” imbuhnya.

Benar-benar tauladan, sosok Dirlantas yang pernah menerima Presisi Award ini.

Diakui, perilaku yang saat ini menjadi kebiasaan bagi dirinya adalah buah dari didikan orang tua. Salat menjadikan seseorang disiplin, pandai menempatkan skala prioritas, dan selalu ingin menjaga akhlak. Meskipun kedua orang tua tidak memiliki latar belakang pekerjaan sebagai alat Negara, namun kedisiplinan yang diajarkan melalui penanaman kebiasaan jangan meninggalkan salat adalah didikan bawaan dari orang tua yang memiliki jiwa yang besar.

Polisi yang pernah menjabat Kapolres Agam dan Dirlantas Polda Riau ini mengaku, tak hanya soal didikan, sosok ibu sendiri merupakan sesosok manusia yang sangat penting bagi dirinya. Ibu adalah yang didahulukan. Di tengah rutinitas, kesibukan, atau apapun kondisi, selagi dia bisa mendahulukan sang ibu, maka tak ada kata lain bagi seorang Dwi Nur Sulistiawan.

Seperti saat itu, tengah serius berbincang dengan wartawan, masuk panggilan dari sang ibu di seberang sana. Begitu melihat nama panggilan masuk, Dwi meminta izin pada wartawan untuk mengangkat telepon, sedangkan beberapa panggilan lain yang masuk sebelumnya, tidak diangkat oleh Dwi, karena tengah serius berbicang.

“Ya kan ibu itu orang tua kita. Harus diutamakan. Meskipun sedang rapat, pasti saya akan angkat telepon dari ibu. Apapun kondisinya, bisa saja tetap angkat telepon ibu kita. Jika memang sedang tidak bisa bicara banyak, karena sedang kegiatan misalnya, kan bisa izin untuk nanti telpon lagi, atau apa. Saya tidak pernah menunda untuk menjawab ibu,” tegas Dwi.

Diakui Dwi, sosok ibu sangat penting baginya. Sang ibu tidak pernah dia rasakan berkurang kasih sayang.

“Saya lima bersaudara. Saya kedua.
Perhatian ibu tetap penuh kepada saya, meski bukan anak bungsu. Usia ibu sekarang 50-an. Sampai sekarang pun selalu perhatian pada anak-anak,” sebutnya.

Ditanya soal siapa yang jadi penyemangat untuk menjadi seorang polisi, mantan Akpol angkatan 2000 ini menyebut bahwa keinginannya sendiri lah yang mendorong dia menjadi seorang polisi. Pria asal Kebumen, Jawa Tengah, ini melihat contoh baik dari sanak saudaranya yang rata-rata berasal dari TNI dan kepolisian, yang membuatnya juga menjadi tertarik untuk mengabdi sebagai alat Negara sepanjang hayatnya. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait