Dari Jerami Menuju Kedaulatan Petani: Sekolah Lapang, SPM, dan Revolusi Ketahanan Pangan di Sungai Gayo Lumpo

Darmini (72) memperlihatkan petak Sawah Pokok Murah-nya dengan sangat bahagia, di Sungai Gayo Lumpo, Pesisir Selatan, Kamis (8/10/2026). Padi yang terlihat telah berusia 15 hari sejak ditanam. (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

Bagi perempuan yang bertahun-tahun menghadapi besarnya modal dan ketidakpastian hasil panen, kemampuan menyisihkan uang untuk kebutuhan sang cucu bukan perkara kecil. Ada kebahgiaan ketika hasil dari sawah tak lagi hanya dihabiskan untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga digunakan untuk mengekspresikan kasih sayang kepada anak-cucu.

SPM tentu belum menghapus seluruh tantangan pertanian. Harga jual, pemasaran, dan risiko gagal panen tetap membutuhkan perhatian. Namun, pengalaman petani pertama yang berani menerapkan SPM di nagarinya ini memperlihatkan bahwa menekan biaya produksi dapat membuka ruang bagi petani untuk mengelola hasil usahanya dengan lebih leluasa. Di usia senja, Darmini menemukan makna baru dari sawah yang digarapnya.

Sebab, kedaulatan ekonomi petani bukan semata-mata tentang seberapa banyak padi yang dipanen, melainkan juga tentang seberapa besar hasil jerih payah itu mampu mengubah kehidupan keluarga. Bagi Darmini, manisnya perubahan itu terasa ketika tabungan dari sawah dapat menjadi bagian dari harapan bagi para anak dan cucu tersayang. (***)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.

Bacaan Lainnya



Pos terkait