Apa yang dikemukakan Ir. Djoni bertaut dengan pandangan pakar agribisnis Dr. Endry Martius. Dia menyebut, sekolah lapang dengan agenda utamanya SPM menggunakan MTOT sebagai riset mandiri petani yang berupaya memfasilitasi kecerdasan otonom petani.
Dari sisi teknis dan ekonomi, Dr. Endry menilai bahwa SPM memiliki sejumlah potensi, terutama dalam mengurangi biaya pengolahan lahan dan kebutuhan tenaga kerja. Pemanfaatan jerami juag menjadi bagian dair pendekatan yang berbeda dari kebiasaan konvensional. Menurut dia, metode ini berpotensi membantu menghadapi kondisi tertentu, termasuk ketika lahan mengalami kekeringan, meskipun hasilnya tetap perlu dinilai berdasarkan kondisi lapangan.
“Kekuatan SPM ini di iklim kekeringan. Kalau sawah kering bisa retak tanahnya, justru dengan SPM ini sawah lebih tahan. Dari segi biaya produksi jelas SPM juga memiliki keunggulan. Dengan SPM, tidak perlu ada ongkos bajak, tidak perlu ada ongkos tenaga kerja, tidak perlu ada ongkos pupuk, dan lainnya. SPM ini mendorong petani, berarti juga mendorong pemerintah. Multiplier effect-nya banyak sekali,” jelas Endry, Senin (12/10/2026).
Namun, Dr. Endry mengingatkan bahwa pengalaman positif petani perlu diperkuat dengan penelitian ilmiah yang terstruktur. Endry mengungkap fakta yang mengejutkan, bahwa belum ada ditemukan kajian akademis yang dibuat oleh orang-orang pertanian mengenai SPM.
“SPM ini, artikel imiahnya ditulis baru dua, dari Unpad, Hubungan Internasional. Dalam artikel itu, dilihat industrial system terkait SPM. Tentang spesifik SPM belum ada yang meneliti. Diharapkan muncul penelitian-penelitian ilmiah terkait SPM. Ini Inovasi,” sebut Dr. Endry.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





