Ia menilai, penelitian SPM perlu dilakukann bukan untuk skala kecil, melainkan lebih kepada bagaimana SPM bisa menyelesaikan persoalan sistem pangan.
“Dalam sistem pangan, ada rezim pangan korporat. Ada istilah food from nowhere, artinya sumber makanan itu tidak tahu dari mana. Pupuknya entah terbuat dari bahan di mana. Bisa jadi dari Rusia atau dari mana. Dengan SPM, yang merupakan terkontrol dari hulu, makanan itu jelas dari mana datangnya,” tambah Dr. Endry.
Mengaitkan dengan sekolah lapang, Dr. Endry menekankan, dengan menghadirkan SPM, petani yang mengikuti sekolah lapang mendapatkan kecerdasan otonom yang tinggi, dengan sentrisnya adalah petani. Dengan SPM, petani tidak dibenturkan dengan kepentingan-kepentingan lain selain kepentingannya sendiri.

Sekdaprov Sumbar: Sinergi Hulu Jaga Ketahanan Pangan
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi menilai, SPM merupakan inovasi pertanian yang menawarkan efisiensi biaya dan waktu. Tentunya ini sangat menguntungkan bagi para petani. Namun, diakui, penerapan SPM sebagai program formal pemerintah tetap memerlukan kajian dan penyesuaian reulasi. Meski demikian, dukungan terhadap inovasi yang bermanfaat bagi petani tetap terbuka. Salah satu upaya penting adalah menyediakan ruang belajar bagi petani.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





