Dari Jerami Menuju Kedaulatan Petani: Sekolah Lapang, SPM, dan Revolusi Ketahanan Pangan di Sungai Gayo Lumpo

Darmini (72) memperlihatkan petak Sawah Pokok Murah-nya dengan sangat bahagia, di Sungai Gayo Lumpo, Pesisir Selatan, Kamis (8/10/2026). Padi yang terlihat telah berusia 15 hari sejak ditanam. (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

Praktik tersebut kemudian memperoleh ruang pembelajaran lebih luas melalui Sekolah Lapang DAUN (Dari Nagari untuk Negeri) yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Dukungan BI Sumbar juga diberikakan dalam bentuk bantuan sarana produksi melalui Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA), berupa peralatan bagi kelompok tani setempat untuk mendukung aktivitas pertanian dari hulu hingga hilir.
Seperti disampaikan Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo Nofinol Edi, Kamis itu, kelompok tani di nagarinya, pada 10 Juli 2025, menerima bantuan PI-KEKDA dari BI Sumbar berupa mesin pencacah tanah multifungsi dan mesin perontok padi.

“Bantuan ini sangat mendukung kegiatan hulu petani. Selain itu ada juga bantuan dari BI berupa becak motor dua unit. Kami sangat bersyukur petani kami mendapat bantuan ini,” ungkap Nofinol.

Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo (kiri) Nofinol Edi dan Dalwardi sedang berbicang mengenai perkembangan SPM di nagari, Kamis (8/10/2026). (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

Ketika Jerami Menggusur Bising Traktor dan Kodok pun Mulai Berdisko

Di Nagari Sungai Gayo Lumpo, perubahan cara bertani dimulai dari sesuatu yang tadinya dianggap tak berguna: jerami sisa panen! Alih-alih dibakar atau disingkirkan, jerami dibiarkan menutupi permukaan tanah sebagai mulsa. Melalui pendekatan MTOT dalam SPM, petani mengurangi pengolahan lahan konvensional, menjaga kelembaban tanah, dan menekan biaya produksi.

Bacaan Lainnya

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait