Dari Jerami Menuju Kedaulatan Petani: Sekolah Lapang, SPM, dan Revolusi Ketahanan Pangan di Sungai Gayo Lumpo

Darmini (72) memperlihatkan petak Sawah Pokok Murah-nya dengan sangat bahagia, di Sungai Gayo Lumpo, Pesisir Selatan, Kamis (8/10/2026). Padi yang terlihat telah berusia 15 hari sejak ditanam. (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

“Yang paling penting adalah petani tidak merasa terjajah lagi. Mereka merdeka pikiran, merdeka ekonomi. Tidak perlu berutang untuk memulai tanam padi. Dengan hasil SPM ini petani bisa nyaman. Saat panen tidak ada kepentingan membayar utang. Bebas nilai penjajahannya. Petani berdaulat di lahannya sendiri. Itu yang mahal. Kalau petani sudah berdaulat, baru pangan berdaulat, baru negara berdaulat,” tegas Ir. Djoni, saat dijumpai di Dangai Inspirasi-nya di Padang, Senin (12/10/2026).

Filosofi yang dikemukakan Dr. Djoni tersebut menjelaskan mengapa SPM tidak berhenti pada perubahan teknik budidaya. Melalui MTOT, petani didorong memanfaatkan jerami yang tersedia untuk menutup permukaan tanah, sekaligus mengurangi kebutuhan membajak sawah. Petani tidak perlu lagi mengguakan mesin bajak atau mengeluarkan biaya sewa untuk membajak sawah. Teknis yang dilakukan dalam SPM dengan MTOT menjadi alternatif untuk menekan biaya yang harus dikeluarkan sebelum panen tiba.

Perubahan cara bertani ini membutuhkan keberanian petani untuk meninggalkan kebiasaan lama dan membangun pengetahuan dari pengalaman. Petani perlu diberi kesempatan melihat praktik langsung, mencoba metode baru, membandingkan hasil, dan menentukan pilihan berdasarkan kondisi lahan masing-masing. Karena itu, pembelajaran di sekolah lapang menjadi penting dalam memperkenalkan SPM kepada petani lain.

Penggagas Sawah Pokok Murah, Ir. Djoni. Sawah Pokok Murah akhirnya dikembangkan di Sekolah Lapang. (Foto: Ist./SumbarFokus.com)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.

Bacaan Lainnya



Pos terkait