Dari Jerami Menuju Kedaulatan Petani: Sekolah Lapang, SPM, dan Revolusi Ketahanan Pangan di Sungai Gayo Lumpo

Darmini (72) memperlihatkan petak Sawah Pokok Murah-nya dengan sangat bahagia, di Sungai Gayo Lumpo, Pesisir Selatan, Kamis (8/10/2026). Padi yang terlihat telah berusia 15 hari sejak ditanam. (Foto: SISCA OKTRI SANTI/SumbarFokus.com)

Bagi Darmini, yang telah bertani sejak 1975, perubahan itu terasa sangat nyata. Setelah mengenal SPM pada 2023 dan mulai menerapkannya di awal 2024, dia memperkirakan biaya bertani yang sebelumnya sekitar Rp12 juta per hektare dapat ditekan menjadi sekitar Rp5 juta saja.

“Kalau dengan SPM, tidak dapat padi pun (red-gagal panen), saya tidak akan menyesal karena modal minim. Tapi jika dengan cara konvensional, tidak dapat padi, apa yang kemudian bisa saya jual (red-untuk kebutuhan hidup)? Sedangkan modal sudah tertanam,” sebut Darmini, mengenang masa pertaruhan di waktu pertanian ia lakukan secara konvensional.

Kebahagiaannya bukan semata-mata soal penghematan. Di antara jerami, Darmini kembali menjumpai hewan-hewan yang selama masa bertani secara konvensional tidak pernah dia temukan lagi.

“Sekarang, kodok sudah kembalai berdisko di hamparan jerami sawah saya. Di sana bunyi, di sini nunyi, bersahutan indah sekali suaranya. Belut juga mulai banyak bisa dijumpai,” sebutnya sumringah.
Kehadiran berbagai organisme itu juga menarik dari sisi ekologi. Laba-laba yang merupakan pemangsa serangga akan memakan hama wereng yang muncul. Kodok juga bisa memangsa berbagai serangga, sementara jerami membantu mempertahankan kelembaban tanah dan menyediakan habitat bagi organisme sawah.

Bacaan Lainnya

Untuk hasil panen, Nafrizal mengemukakan, pada lahan seperempat hektare miliknya, ia mencatat hasil panen meningkat, dari yang tadinya hanya sekitar 20 karung menjadi 27 karung, sementara biaya turun dari Rp2,5 juta belum termasuk pupuk menjadi Rp1,5 saja tanpa harus membeli pupuk.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait